Resensi Buku “Laut Bercerita”
Oleh : Maulana Bantaqiah
Tulisan ini diilhami oleh berbagai harapan yang lahir setelah saya membaca Buku Laut Bercerita. Merupakan sebuah karya dari seorang penulis yang bernama Leila S. Choduri. Sebuah maha karya yang setiap kata demi katanya mempuyai rasa, yang setiap kalimat-kalimatnya mempunyai jiwa. Seakan-akan kita dibawa untuk menelusuri lorong kehidupan tokoh utama di dalam buku tersebut, yaitu “Biru Laut”. Buku ini mengambil latar belakang waktu rezim Soeharto, era banyak sekali orang yang mempunyai pemikiran kritis dan suka menentang kebijakan pemeritahan ditangkap, dipenjara, hingga mendapatkan penyiksaan. Bahkan terdapat beberapa aktivis yang dihilangkan secara paksa “disparasitosa”, yang hingga saat ini keberadaan mereka tidak diketahui. Entah raga mereka sudah menyatu dengan bumi, atau sedang berkelana di suatu tempat antah berantah, yang tak terjamak oleh manusia. Di dalam buku ini terdapat dua judul besar yang setiap judulnya mempunyai tema yang berbeda-beda. Judul yang pertama ialah “Biru Laut”, dimulai ketika Laut dan kawan-kawan mempunyai harapan atau cita-cita untuk memulai kehidupan baru, di dalam Indonesia yang baru, yang demokratis, yang tidak terdapat korupsi -yang terdapat kebebasan dan kesetaraan. Sang penulis berhasil membungkus cerita laut dan kawan-kwan dalam memperjuangkan keadilan merupakan sesuatu hal yang dapat menggugah rasa dan karsa bagi sang pembaca. Bagaimana bisa seorang anak yang berumur 20 tahun bercita-cita untuk mewujudkan Indonesia yang baru. Kegegalan,pengkhianatan,kerinduan terhadap orang yang disayangi merupakan bentuk kegelapan di dalam perjuangan. Tetapi sebagai seorang pejuang haruslah tetap yakin bahwasannya setitik harapan, setitik terang akan hadir di dalam dimensi kegelapan. Maka dari pada itu jatuh di dalam perjuangan pastilah ada, tetapi jangan sampai kita jatuh di dalam titik kelam. Karena di dalam fase kelam, kita sudah ditutupi oleh keputusasaan. “matilah engkau mati, kau akan lahir berkali-kali”. Kisah perjalanan laut merupakan kisah yang kompleks, karena di dalamnya terdapat semangat di dalam meperjuangkan sesuatu, kebersamaan dengan orang-orang yang mempunyai harapan yang sama, romantisme di dalam menjalankan suatu amanat yang dapat membatasi kita dengan orang-orang yang kita sayangi, hingga kematian yang mempunyai arti seperti nama biru laut yang hidupnya berakhir di dalam kedalaman lautan, ditemani oleh kegelapan dan kehampaan yang abadi.
Judul yang kedua adalah “Asmara Jati”, asmara atau yang biasa dipanggil mara merupakan adik kandung dari Biru Laut. Kecerdikan sang penulis di dalam menghidupkan kesan bagi sang pembaca, salah satunya ia menuliskan cerita dari perspektif keluarga yang orang tercintanya dihilangkan secara paksa. Sang adik yang sangat teramat sayang dengan kakaknya itu menjalani kehidupan setelah kakaknya hilang dilalui dengan tertatih-tatih. Karena di fase itu kedua orang tuanya masi terkurung di dalam kesedihan yang berlarut-larut, hingga asmara merasa tak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya lagi. Kedua orangtuanya masi terjebak di dalam kepompong yang penuh harapan, bahwa laut masih hidup dan sedang menjalani kehidupan seperti biasa. Sedangkan mara merupakan orang yang paling realis, ia tau bahwa kakak tercintanya tidak akan kembali lagi, tetapi ia tidak bisa mengungkapkan keresahan tersebut kepada kedua orang tuanya, dan para keluarga korban yang dihilangkan secara paksa. Asamara merupakan tipikal orang yang penuh semangat dalam memperjuangkan sesuatu, sama seperti kakaknya. Tetapi sang kakak yaitu biru laut berjuang untuk Indonesia yang baru, sedangkan sang adik berjuang di dalam menyelamatkan pasien karena statusnya sebagai mahasiswa kedokteran. Meskipun mara merupakan orang yang tidak suka penyangkalan, dan lebih realistis tekait status kakaknya yang hilang atau sudah meninggal itu. Mara lantas tidak berdiam diri saja, dan menerima takdir bahwa kakaknya dibunuh oleh negara yang seharusnya negara menjaga dan melindungi rakyatnya.
Perjuangan mara dalam menuntut keadilan terkait kepastian siapa dalang dibalik hilangnya kakaknya, dimulai dengan ia masuk kedalam organisasi komisi orang hilang, serta ikut dalam aksi kamisan di depan istana negara. Bahkan hingga sampai ke sidang PBB di New York untuk bercerita terkait pelanggaran ham yang dilakukan oleh pemerintahan rezim Soeharto pada saat itu. Laila S Chudori, berhasil mempersembahkan suatu karya yang abadi dan akan lahir berkali-kali.
“Ketidaktahun dan Ketidakpastiaan, kadang-kadang lebih membunuh dari pembunuhan”
Karya Laila S chudori ini merupakan karya fiktif, Penulisannya dilatar belakangi oleh cerita dari salah satu aktivis 98 yang bernama Nezar Patria. Nezar Patria dan Kawan-kawannya merupakan salah satu aktivis yang pernah di culik pada era Rezim Soeharto. Sebuah cerita yang membuat Laila terkesan, sebuah cerita yang amat teramat jujur terkait segala hal penyiksaan yang mereka terima pada saat menggugat rezim Soeharto. dari cerita itulah Laila berjanji untuk menulis sebuah karya yang menceritakan tentang para akvitis yang diculik, yang kembali dan yang takkembali; tentang keluarga yang terus-menerus menunggu kepastian dari orang yang mereka sayangi, hingga sekarang tidak ada kepastian dimana keberadaan mereka.