SEKSI Season 1
MENGINDERA KEMBALI TULISAN SOEKARNO TENTANG ISLAM SONTOLOYO DALAM BUKU DI BAWAH BENDERA REVOLUSI (DBR) JILID I
Oleh: Syahrin Shafa
Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi SEKSI (Senja Kita Berdiskusi)
Islam Sontoloyo adalah suatu esai dalam DBR yang ditulis Soekamo untuk mengkritik salah satu golongan Islam. Golongan yang disebut telah mengelabui Tuhan, dalam awal paragraf dinyatakan fenomena pemerkosaan yang dilakukan oleh guru agama. Nada tulisan marah itu sangat terasa ketika kita membaca saat Soekarno menyatakan bahwa telah dihalalkan segala macam cara-yakni dengan “dinikahi’ terlebih dahulu murid-murid yang akan diperkosa itu. Di lain fenomena juga Soekarno kemukakan kritiknya lewat esai Islam Sontoloyo ini. Kritik kepada kaum Islam yang terlalu bersandar kepada fiqih, yang akhirnya mematikan jiwanya Islam itu sendiri. Pemaknaan yang kaku tentang Islam membuatnya menjadi agama yang tidak ‘asik’.
“Adalah seorang “Sayid” yang sedikit terpelajar-tetapi ia tidak dapat memuaskan saya karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun jua dari “kitab fiqih”: mati-hidup dengan kitab fiqih itu… Quran dan api Islam seakan-akan mati karena fiqih itu sahajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam ilahi sendiri”!
Pemaknaan tentang Islam yang hanya membatasi implementasinya melalui sholat dan puasa dan menganggap telah melakukan agama juga disoroti oleh Soekarno. Dapat terlihat nilai Marhaenisme dalam esainya ini, bahwa Soekarno sepakat jika menjadi muslim juga tentang perjuangan melawan kaum yang ingin membelenggu Islam -yang jika kita bahasakan dengan yang lain ialah melawan kaum penindas.
Dalam esainya ini, penulis menangkap harapan Soekarno kepada kaum Islam yang cukup besar. Dia telah menyatakan bahwa dirinya tidak membenci fiqih namun kecewa terhadap golongan Islam yang dangkal -yang akhirnya tidak menghidupkan nalar kritisnya dan mengelabui Tuhan. Perumpamaannya yang lain, Soekarno mengatakan bahwa muslim yang makan babi akan lebih mudah ditunjuk hidungnya dan dicap kafir. Sedangkan muslim yang menghina orang miskin, mengambil haknya anak yatim dan memfitnah orang lain tidak akan banyak dipedulikan. Rangkaian perlakuin ini akhirnya membuat Soekarno berkesimpulan bahwa janganlah kita mementingkan pemahaman kulit luar saja dalam beragama. Pemaknaan kita terhadap Islam harus selalu dalam ruang pembaharuan, supaya Islam tidak kaku dan supaya Islam akan selalu menjadi tempat kita pulang (menjawab pertanyaan).
Keresahan Soekarno terhadap golongan muslim yang demikian’ masuk akal dan penulis sepakat bahwa pemahaman tentang Islam perlu kita periksa kembali. Firman Allah dan Sunnah Nabi tidak akan berubah, namun proses sejarah terus berjalan dan dunia selalu dalam proses kemenjadian. Relevansi Islam dengan zaman harus selalu dilakukan oleh seorang muslim. Perjuangan kaum Islam -harus kita akui- tidak bertentangan dengan perjuangan Marhaenisme dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Maka bukan suatu hal yang aneh jika kita menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim dan di lain sisi kita menjalankan yang telah diajarkan Marhaenisme
Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1, t.t., 497.